Bayangkan ini: Anda sedang asyik menikmati secangkir kopi, tiba-tiba layar ponsel menyala dengan notifikasi “Drama Terbaru: [Nama Perusahaan A] vs [Nama Perusahaan B]!”. Lagi-lagi. Rasanya seperti menonton sinetron yang naskahnya ditulis oleh algoritma yang bosan dan hanya tahu satu plot: saling ejek, saling klaim, dan saling bikin heboh. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang jarang dibahas—pengawasan rivalitas yang entah sejak kapan jadi hiburan gratis bagi kita semua.
Rivalitas yang Dijual: Dari Bisnis ke Reality Show
Dulu, persaingan bisnis itu seperti pertandingan catur—diam, strategis, dan hasilnya baru ketahuan setelah beberapa langkah. Sekarang? Lebih mirip gulat WWE, lengkap dengan mikrofon, kostum mencolok, dan drama yang sengaja diciptakan untuk menarik perhatian. Entah itu perang harga yang dikemas sebagai “revolusi konsumen”, atau serangan balik di media sosial yang dibumbui dengan meme dan jargon-jargon kekinian.
Tapi siapa sebenarnya yang diuntungkan dari pengawasan rivalitas ini? Konsumen? Mungkin, jika mereka suka disuguhi drama tiap hari. Investor? Tergantung, kalau mereka tidak bosan dengan fluktuasi saham yang mirip rollercoaster. Atau justru media dan platform digital yang kebagian jatah klik dan engagement? Ah, tentu saja. Mereka yang paling senang ketika dua raksasa saling sikut, karena artinya konten gratis dan traffic melimpah.
Ketika Persaingan Jadi Komoditas
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa setiap kali dua brand berseteru, tiba-tiba muncul puluhan artikel, video, dan thread Twitter yang menganalisis siapa yang “menang”? Seolah-olah ini bukan tentang produk atau layanan, tapi tentang siapa yang lebih jago bikin heboh. Pengawasan rivalitas bukan lagi soal siapa yang lebih unggul, tapi siapa yang lebih lihai memanfaatkan momentum.
Ambil contoh kasus klasik: Apple vs Samsung. Setiap peluncuran produk baru pasti diiringi dengan perbandingan yang dibuat seolah-olah ini perang dunia ketiga. Padahal, di balik semua itu, kedua perusahaan ini sama-sama untung—Apple dengan ekosistem tertutupnya yang loyal, Samsung dengan jangkauan pasar yang luas. Tapi yang paling untung? Media yang bisa menjual iklan di tengah-tengah “analisis mendalam” tentang mana yang lebih baik.
Drama yang Dibayar dengan Data Pribadi Anda
Inilah bagian yang paling ironis: kita, sebagai konsumen, sering kali tidak sadar bahwa kita sedang menjadi bagian dari pertunjukan. Setiap like, share, dan komentar yang kita berikan adalah bahan bakar bagi mesin pengawasan rivalitas. Algoritma media sosial dirancang untuk memperbesar konflik, karena konflik berarti engagement, dan engagement berarti uang.
Pernahkah Anda merasa terjebak dalam echo chamber di mana semua orang seolah-olah harus memilih salah satu kubu? Itu bukan kebetulan. Platform digital sengaja menciptakan polarisasi karena itu cara paling efektif untuk membuat kita tetap online. Dan semakin lama kita online, semakin banyak data yang bisa mereka jual. Jadi, siapa yang benar-benar mengawasi siapa di sini?
Konsumen: Raja yang Dijadikan Bidak
Kita sering diberitahu bahwa konsumen adalah raja. Tapi dalam permainan pengawasan rivalitas, kita lebih mirip bidak yang dipindah-pindahkan sesuai kepentingan pemain utama. Brand-brand besar tahu persis bagaimana memanfaatkan psikologi massa—menciptakan FOMO (Fear of Missing Out), memanfaatkan tribalisme, atau bahkan memprovokasi emosi untuk mendorong pembelian.
Contohnya, ketika dua brand telekomunikasi bersaing dengan menawarkan paket data “terbaik”, yang sebenarnya sama-sama mahal jika dihitung per GB-nya. Tapi karena kita sudah terlanjur terpapar drama persaingan mereka, kita jadi lupa untuk membandingkan secara objektif. Kita hanya melihat mana yang lebih “kekinian” atau mana yang lebih sering muncul di iklan.
Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Jika pengawasan rivalitas ini sudah jadi industri hiburan tersendiri, lantas siapa yang harus mengawasi para pengawas? Pemerintah? Mereka terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Regulator? Mereka sering kali ketinggalan zaman dan tidak paham dinamika digital. Lalu, apakah kita harus pasrah dan terus menikmati tontonan ini?
Mungkin inilah saatnya kita, sebagai konsumen, mulai lebih kritis. Alih-alih langsung terpancing emosi ketika melihat drama persaingan, coba tanyakan: “Apa untungnya bagi saya?” Alih-alih ikut-ikutan menyebarkan konten yang memanas-manasi, coba cari informasi yang lebih objektif. Dan yang terpenting, ingatlah bahwa di balik setiap persaingan yang dipentaskan, ada pihak-pihak yang sedang tertawa sambil menghitung keuntungan.
Jadi, lain kali ketika Anda melihat notifikasi tentang drama terbaru antara dua brand, coba tunda dulu untuk mengkliknya. Mungkin lebih baik menikmati kopi Anda dalam damai, sambil tersenyum sinis mengetahui bahwa Anda tidak lagi menjadi bagian dari pertunjukan yang mereka ciptakan. Karena pada akhirnya, pengawasan rivalitas bukan tentang siapa yang menang atau kalah—tapi tentang siapa yang paling pandai memanfaatkan perhatian Anda.
